Upayakan Harga Singkong Naik, Bupati Lamteng Ajak Petani Audiensi Dengan Menteri Perdagangan

Beritatransparansi.com, Lampung Tengah – Anjloknya Harga singkong dari harga sebelumnya Rp. 1200/kg sekarang turun menjadi Rp 450-550/kg. Kondisi ini membuat petani singkong di Lampung Tengah menjerit. Hal ini disampaikan Bupati Lampung Tengah Mustafa pada saat audiensi dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dikantornya di Kantor Kementerian Perdagangan Republik Indonesia Jl. M. I. Ridwan Rais, No. 5, Jakarta Pusat, Sabtu (22/10/2016).

 

Mustafa menuturkan, kedatangannya ke kantor Kementerian Perdagangan adalah dalam rangka mendampingi serta memfasilitasi aspirasi petani singkong atas anjloknya komoditas ini. “Sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia, jatuhnya harga ubi kayu ini menjadi pukulan tersendiri bagi petani di Lampung Tengah,” ujarnya.

 

“Untuk itu saya merasa ikut bertanggung jawab atas jeritan petani singkong di Lampung Tengah. Hari ini saya mencoba mencari solusinya dengan mengajak langsung para petani singkong untuk menyampaikan aspirasi dan permasalahan mereka. Alhamdulillah kami diterima langsung oleh Mendagri, mudah-mudahan ada titik terang dari pertemuan ini,” ungkap Mustafa.

Baca Juga:  Tingkatkan Literasi dan Inklusi Pasar Modal, CMSE 2020 Digelar Virtual

 

Bupati muda ini memaparkan, Lampung Tengah adalah wilayah dengan komoditas penghasil singkong terbesar dengan luas 79.805 hektar dan total produksi 2,4 juta ton. “Dengan turunnya harga singkong dari semula Rp 1200/kg menjadi Rp 560/kg di tingkat pabrik atau Rp 450/kg tingkat petani, tentunya sangat merugikan petani,” kata Mustafa.

 

“Sedikitnya petani telah kehilangan pendapatan Rp 1,2 triliun per tahun dari anjloknya harga singkong,” tuturnya.

 

Keseriusan Mustafa mengupayakan kenaikan harga singkong juga dilakukan dengan melakukan sidak ke sejumlah perusahaan tapioka di Lampung Tengah. Langkah ini guna memastikan langsung harga singkong di tingkat pabrik. Dari kunjungan tersebut, Mustafa mendapatkan laporan bahwa anjloknya harga singkong disebabkan kebijakan impor yang dilakukan oleh pemerintah.

 

Dalam sidak, Mustafa juga telah mengingatkan perusahaan agar bijak menentukan besarnya potongan ongkos cabut dan muatan singkong. Jangan sampai petani semakin menderita dengan anjloknya harga ditambah potongan ongkos cabut serta muatan singkong.

 

“Sudah saya sampaikan. Perusahaan harus bijak, potongan jangan terlalu besar. Kasian dengan petani, sudah harga anjlok, harga masih dipotong dengan presentasi cukup tinggi. Perusahaan juga harus memikirkan nasib petani,” pungkasnya.

Baca Juga:  Pemprov Banten dan PT SMI Beberkan Manfaat Program Pemulihan Ekonomi Dampak Covid

 

Pada kesempatan itu, Mendag Enggartiasto Lukita menyampaikan apresiasinya kepada Bupati Lampung Tengah Mustafa yang sudah memfasilitasi para petani untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung ke kementerian. Ini menjadi bukti keseriusan seorang kepala daerah dalam menyerap aspirasi dan mencari solusi permasalahan yang dihadapi rakyatnya.

 

“Beliau satu-satunya kepala daerah yang mau memfasilitasi warganya (petani) untuk menyampaikan aspirasi langsung ke Menteri. Saya apresiasi sekali. Mudah-mudahan bisa menjadi teladan bagi kepala daerah lainnya untuk benar-benar serius menanggapi permasalahan warga yang dipimpinnya,” ujar Enggar.

 

Menanggapi keluhan petani singkong, Enggar menyatakan belum ada regulasi atau peraturan yang penetapan harga standar singkong nasional. Untuk itu akan dibahas Menteri Pertanian dan pihak pengusaha. Menurutnya penetapan harga penjualan singkong penting untuk melindungi petani dari kemungkinan anjloknya harga yang disebabkan beberapa factor, seperti panen, serbuan produk luar negeri dan lainnya.

Baca Juga:  Pandemi Covid-19, Badan Publik Tetap Berikan Layanan Informasi Publik

 

Enggar Menghimbau kepada petani singkong untuk beralih fungsi tanam dari singkong ke tebu, hal ini bertujuan mencegah agar tidak terjadi over produksi sehingga harga singkong bisa terkendali.

 

“Anjloknya harga singkong kerap terjadi saat panen raya karena over produksi. Dengan beralih tanam, mudah-mudahan produksi singkong dapat ditekan sehingga harga lebih terjaga. Harga tebu juga lebih stabil dibandingkan singkong,” ungkap Enggar.

 

Enggar berjanji akan segera memanggil perusahaan-perusahaan tapioka di Lampung Tengah agar menaikan harga singkong dalam kisaran Rp 800-900 per kg.

 

Tidak hanya itu, tambah Enggar, Pihaknya juga berjanji akan mendatangkan investor untuk membangun pabrik tebu yang nantinya akan menampung hasil produksi petani. “Namun yang jelas, solusi jangka pendek yang akan dilakukan adalah dengan memanggil pengusaha-pengusaha tapioka di Lampung Tengah. Kami akan minta harga singkong dinaikan,” imbuhnya. (angga/red).