Ulama Ahli Fiqh Semakin Langka

Amas Tadjuddin (pegang mik sedang ceramah), KH A Matin Jawahir, Dr KH Toha Sobirin
Amas Tadjuddin (pegang mik sedang ceramah), KH A Matin Jawahir, Dr KH Toha Sobirin

SERANG – Santri memiliki potensi besar untuk mengelola negara bangsa agar lebih bermaslahat (berpihak) kepada kepentingan masyarakat secara lebih luas dan berkeadilan.

Hal tersebut disampaikan oleh Amas Tadjuddin dalam ceramahnya saat memperingati Hari Santri Nasional yang diselenggarakan oleh PW IPNU Provinsi Banten di Gedung PWNU Banten, Minggu (22/10).

Dihadapan ratusan santri, Amas mengajak para santri bergerak bersama merebut kesempatan dalam rangka mewujudkan cita cita pendiri negara bangsa yang telah berhasil mengusir para penjajah dari bumi nusantara ini.

“Ayo mari kita wujudkan cita-cita pendiri bangsa,” ujar Amas.

Amas Tadjuddin saart memberikan ceramah

Tidak bisa dipungkiri, tambah Amas, bahwa perjuangan para santri dimasa lalu, dengan pekik “Allahu Akbar” mampu mengobarkan jihad pribumi dengan slogan “hidup atau mati syahid” demi kemerdekaan Republik Indonesia tercinta.

Ketahuilah bahwa santri menurut Amas adalah para pewaris pendiri negara bangsa ini yang harus menjadi garda terdepan dalam mempertahankan idiologi negara Pancasila, dan UUD 1945, agar hidup makmur sejahtera menjadi tuan di negeri sendiri, bukan sebaliknya menjadi tamu di negeri sendiri.

Peserta Santri Laki-Laki

“dulu kalau menyebut pesantren, pasti yang terbayangkan adalah tempat santri belajar ilmu nahwu shorof seperti awamil-jurumiyah-imriti-alfiah, atau ilmu fiqh seumpama safinah, riyadul badiah, fathul qorib, fathul muin, lanjut kitab tafsir minimal tamat tafsir jalalen atau hadis tanqihul qaul, sehingga pesantren mampu melahirkan ulama ahli fiqh, ahli tafsir, ahli nahwu, ahli matiq, dan ahli lainya,” kata Amas selaku penceramah utama.

“Tetapi kini pesantren sudah berubah cepat sehingga secara praktis mampu melahirkan lulusan ahli ternak udang, lele, kambing, dan lain lain, sehingga saat ini terjadi kelangkaan ulama ahli fiqh,” ungkap Amas yang juga Pendiri dan penerus sebuah Ponpes di Cipanas Lebak.

Peserta Santri Perempuan

Menurut Amas Tadjuddin kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memberikan pemahaman tentang wawasan kebangsaan kepada masyarakat lebih luas melalui peran para aktivis santri sehingga tercipta suatu kondisi damai islam yang sejuk di Provinsi Banten. (bt).