Berita  

Program Pemudaan Perkotaan Ancam Tempat Bermukim Penduduk Miskin

Wajah Baru Kota, Ancaman Lama: Menguak Dilema Program Pemudaan Perkotaan

Program pemudaan perkotaan seringkali digadang-gadang sebagai angin segar pembangunan kota. Dengan fokus pada penciptaan ruang kreatif, pusat inovasi, dan peningkatan estetika lingkungan, tujuannya mulia: memfasilitasi generasi muda dan menghidupkan kembali area-area yang kurang berkembang. Namun, di balik gemerlap janji revitalisasi ini, tersimpan dilema pelik yang mengancam keberadaan tempat bermukim penduduk miskin.

Mekanisme yang sering terjadi adalah gentrifikasi. Ketika suatu area direvitalisasi untuk menarik investasi dan aktivitas kaum muda, nilai properti di sekitarnya cenderung melonjak drastis. Biaya sewa dan harga tanah meningkat tajam, diikuti oleh kenaikan biaya hidup secara keseluruhan. Akibatnya, warga berpenghasilan rendah yang telah lama mendiami daerah tersebut, kerap kali terpaksa angkat kaki. Mereka tidak mampu lagi membayar sewa, pajak, atau bahkan memenuhi kebutuhan dasar di lingkungan yang semakin mahal.

Penggusuran tidak langsung ini mengakibatkan mereka kehilangan akses terhadap komunitas, pekerjaan informal, dan jaring pengaman sosial yang telah dibangun bertahun-tahun. Mereka terpaksa pindah ke pinggiran kota yang lebih jauh, menambah beban transportasi dan mengurangi kualitas hidup.

Oleh karena itu, program pemudaan perkotaan harus dirancang dengan pertimbangan sosial yang matang. Penting untuk tidak hanya fokus pada estetika dan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan sosial. Penyediaan skema perumahan terjangkau, relokasi yang manusiawi, serta pelibatan aktif komunitas lokal sejak tahap perencanaan adalah kunci. Sebuah kota yang maju adalah kota yang merangkul semua warganya, memastikan bahwa "wajah baru" kota tidak berarti "wajah sedih" bagi mereka yang paling rentan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *