Opini vs 3 Tahun Kinerja Pemerintah

Jazuli Abdillah (sebelah kanan) saat menyampaikan materi pada kegiatan FGD bertema Opini vs 3 Tahun Kinerja Pemerintah di Kampus UIN Banten, Kamis, (26/10).
Jazuli Abdillah (sebelah kanan) saat menyampaikan materi pada kegiatan FGD bertema Opini vs 3 Tahun Kinerja Pemerintah di Kampus UIN Banten, Kamis, (26/10).

SERANG – Sampai hari ini tidak ada satupun lembaga survey yang menyatakan kinerja pemerintahan Joko Widodo Jusuf Kalla gagal atau tidak memuaskan, namun semua lembaga tersebut hasilnya adalah memuaskan.

Hal tersebut disampaikan oleh Jazuli Abdillah sebagai presidium KAHMI Banten saat menjadi narasumber pada kegiatan Focus Grup Discussion bertema “Opini Vs 3 Tahun Kinerja Pemerintah” yang diselenggarakan oleh GPII di Kampus UIN Serang, Kamis, (26/10).

Dihadapan ratusan peserta FGD, Jazuli mengajak bagaimana cara melihat suatu opini. “kalau survey, opini itu berangkat dari metode penelitian Kuantitatif,”pungkasnya.

Metodelogi yang ditempuh oleh lembaga survey dalam penilaian opini publik yaitu kuantitatif pendekatannya pada responden yaitu menanyakan langsung kepada masyarakat. “ketika bertanya kepada masyarakat, jawabannya ini rata-rata puas semua,” kata jazuli.

Ketua PW GPII Banten Iman Fauzi Saat memberikan Sambutan

Menurutnya, sepintas sangat tidak rasional atau tidak logis karena dari ratusan juta masyarakat apabila yang ditanyakan oleh lembaga survey terhadap responden hanya 1300 jiwa untuk mengkonfirmasi sebuah keberhasilan dan kegagalan dalam pemerintahan Jokowi. Lain halnya dengan metode Kualitatif yaitu hanya dalam bentuk kajian saja. “Si peneliti yang berpendapat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Acep Helmi selaku pengamat kebijakan publik mengatakan bahwa pemerintahan Jokowi-JK jika melihat kebelakang itu adalah pertempuran opini dari media dan bagaimana Jokowi lahir sebagai kandidat terkuat Presiden adalah hasil kedikdayaan media.

Dari Kiri Ade Jahran (Komisioner Komisi Informasi Provinsi Banten), Acep Helmi (Pengamat Kebijakan Publik), Hilman (Komisioner Komisi Informasi Provinsi Banten), Jazuli Abdillah (Presidium KAHMI Banten).

“Jokowi Lahir kandidat terkuat itu hasil dari kemampuan sebuah opini dari media, berangkat dari Walikota di daerah yang jauh dari Jakarta tiba-tiba dengan hebatnya menang di Pilgub Jakarta, itu karena pembentukan opini bagaimana tim nya membentuk sebuah opini bahwa hari ini Jakarta membutuhkan pemimpin yang seperti Jokowi,” terang Acep.

Termasuk ketika untuk menjadi Presiden terbentuk suatu opini bahwa hari ini pemerintah itu harus dekat dengan rakyat dan turun langsung ke rakyat karena pada periode sebelumnya terkesan elitis.

Peserta FGD

“Media cetak, media elektronik dan media sosial begitu menghegomoni, begitu mengagungkan Jokowi, setiap langkahnya terpantau oleh media, untuk melihatnya sangat mudah, cukup liat HP kemudian buka Youtube lalu kita dapat melihat apa yang dikerjakan oleh Jokowi,” ujar mantan aktivis BEM Fisip Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu.

Ketua PW GPII Banten Iman Fauzi beharap, dengan diadakannya FGD tersebut bisa memberikan saluran bagi mahasiswa dan pemuda untuk mengkritisi secara konstruktif terkait kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini.

Kegiatan ini sengaja diinisiasi untuk memberikan penilaian yg objektif terkait isu-isu kekinian. “Dengan banyaknya isu-isu atau informasi yg sifatnya provokatif, hoaks dan agitatif bisa diminimalisir bahkan dicegah,” tegasnya. (bt)