Mustafa Warning Perusahaan Yang Belum Naikan Harga Singkong

Beritatransparansi.com, Lampung Tengah – Upaya mengatasi anjloknya harga singkong di Kabupaten Lampung Tengah, Bupati setempat Mustafa tak hanya membuat kesepakatan dengan 4 perusahan. Ia juga akan mewarning perusahaan-perusahaan yang belum menaikan harga.

 

Dari total perusahaan tapioka di Lampung Tengah, baru 4 perusahaan yang bersedia menaikan harga singkong dari Rp 560 per kg menjadi Rp 700 per kg. Keempat perusahaan tersebut yakni PT. Aroma Mega Sari, PT. Budi Makmur Perkasa, PT. Budi Subur Tanindo dan PT. Alu Aksara Pratama.

 

Menyikapi hal ini, Mustafa akan menyurati perusahaan untuk menaikan harga. “Saya apresiasi sekali dengan perusahaan yang telah menaikan harga. Langkah ini saya harap diikuti perusahaan tapioka lainnya. Saya akan surati perusahaan-perusahaan yang belum menaikan harga,” ungkap Mustafa, Minggu, (5/11/2016)

 

Dia menegaskan, perusahaan-perusahaan yang tidak patuh akan dievaluasi. Sebaliknya, perusahaan yang kooperatif akan mendapatkan suport dari Pemkab. Ia menyatakan siap membantu perusahaan yang mempunyai visi membangun kesejahteraan masyarakat.

 

Ia mengajak kalangan pengusaha untuk tidak hanya fokus membesarkan perusahaan, tetapi juga bisa memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitarnya.

 

“Pengusaha harus memiliki kepedulian. Jika perusahaan masih ingin cari untung di Lampung Tengah, saya minta perusahaan bantu petani. Perusahaan harus peduli, jangan hanya mau cari untung saja. Perusahaan jangan pura-pura tidak tahu dengan jeritan petani. Saya juga berharap harga bisa terus naik hingga angka ideal,” tegasnya.

 

Ia juga meminta agar perusahaan memprioritaskan hasil produksi petani Lampung Tengah dibandingkan daerah lain. Hasil panen petani lokal, kata dia, harus diakomodir terlebih dulu. Perusahaan juga diminta untuk memiliki kepedulian besar terhadap petani lokal.

 

“Saat ini kenaikan singkong hanya berlaku di empat penjuru wilayah di lingkungan keempat perusahaan. Saya berharap kenaikan harga singkong bisa berlaku di seluruh wilayah di Lampung Tengah. Jika petani sejahtera, saya percaya Lampung Tengah maju,” pungkas Mustafa.

 

Mengatasi anjloknya harga singkong, bupati muda ini juga akan mengembangkan varietas jenis tanaman lainnya untuk ditanam petani, seperti tebu, bawang merah, cabai, gaplek dan varietas lainnya. Pengembangan varietas tanaman diharapkan bisa menjaga stabilitas harga komoditas pertanian.

 

Mustafa mencontohkan, harga gaplek per kg di tingkat peternak besar Rp 3000 kg. Dengan asumsi 2kg singkong basah dapat menghasikan 1kg gaplek kering.

 

“Hal ini bisa menjadi satu terobosan ke tingkat petani harga per kg singkong basah bisa di atas 1.250 bersih jika kita bisa preassure peternak besar agar biasa mengambil gablek di Lampung. menurut info, hanya suplayer besar bisa mensuplay gaplek tersebut, petani dan pengusaha kecil tidak bisa,” paparnya.

 

Tak hanya itu, guna menjaga stabilitas harga pertanian, Mustafa telah menggandeng Bank Indonesia membangun kerjasama tentang pengembangan klaster bawang merah di empat kecamatan di Lampung Tengah. Varietas tanaman diyakini mampu mengantisipasi over produksi di komoditas tertentu yang berimbas pada anjloknya harga.

 

“Harus ada inovasi dan strategi baru guna mencegah inflasi komoditas pertanian. Kita akan mengembangkan alternatif tanaman agar tidak ada over produksi, one village one cluster. Dengan ini stabilitas harga pertanian dapat dijaga,” tukasnya. (angga/red).