Mantan Teroris: Terorisme Bukan Merupakan Produk Instan

Foto Saat Ali Fauzi Manzi memberikan pemaparan pada acara Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten gelar Diseminasi ‘Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers Dalam Meliput Isu-isu Terorisme,” di D’wiza Resto, Jalan Syeikh Nawawi Albantani No 20, Banjarsari Cipocok Jaya, Kota Serang, Selasa (29/11/2016).
Foto Saat Ali Fauzi Manzi memberikan pemaparan pada acara Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten gelar Diseminasi ‘Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers Dalam Meliput Isu-isu Terorisme,” di D’wiza Resto, Jalan Syeikh Nawawi Albantani No 20, Banjarsari Cipocok Jaya, Kota Serang, Selasa (29/11/2016).

Beritatransparansi.com, SERANG – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Banten gelar Diseminasi ‘Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers Dalam Meliput Isu-isu Terorisme,” di D’wiza Resto, Jalan Syeikh Nawawi Albantani No 20, Banjarsari Cipocok Jaya, Kota Serang, Selasa (29/11/2016).

 

Pada kegiatan tersebut yang menjadi narasumber adalah Ali Fauzi Manzi alias Abu Ridho, alias Ikrima, alias Salman yang merupakan mantan narapidana terorisme sekaligus juga adik kandung dari terpidana mati kasus ledakan bom bali Amrozi dan Muchlas.

 

Disampaikan Ali, bahwa terorisme bukan merupakan produk instan, “orang menyangka hasil dari BimSalabim, tidak itu semua ada prosesnya,” ujar Ali saat memberikan pemaparan.

Baca Juga:  RELAWAN BRIGADE TAPA ALL OUT MENANGKAN PASLON NOMOR URUT 01

 

“Radikalisasi bukanlah sebuah produk dari keputusan yang single tetapi hasil dari proses dialektika panjang yang perlahan-lahan mendorong seseorang komitmen pada aksi terorisme,” tambah Ali.

 

Ali menceritakan bahwa dirinya adalah seseorang yang juga merupakan otak peledakan bom bali pada tahun 12 Oktober 2002 yang lalu.

“Berat bom tersebut seberat 1ton 125kg yang terbuat dari mikro nuklir dan di rakit di lamongan di rumah saya dan di bawa ke Denpasar,” ujar Ali menjelaskan. (bt/red)