Jaga Stabilitas Harga Pertanian, Pemkab Lampung Tengah Gandeng BI

 

Beritatransparansi.com, Lampung Tengah – Upaya membangun sektor pertanian terus dilakukan Pemkab Lampung Tengah. Guna menjaga stabilitas harga komoditas pertanian, Pemkab Lamteng menggandeng Bank Indonesia dengan mengembangkan alternatif-alternatif tanaman bagi petani.

 

Tak hanya ingin dikenal dengan potensi singkong, nanas dan tebu, Lamteng kini mulai membidik potensi bawang merah dengan membentuk klaster di empat kecamatan yakni Kalirejo, Pubian, Seputihraman, dan Kotagajah.

 

Kerjasama dengan Bank Indonesia ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman¬† tentang pengembangan klaster bawang merah Kabupaten Lampung Tengah di gedung BMT Assafi’iyah Kotagajah Lampung Tengah, Selasa, (1/11/2016).

 

Menurut Bupati Lamteng Mustafa kerjasama ini adalah sebagai strategi dalam mengendalikan harga komoditas pertanian. Menurutnya solusi anjloknya harga singkong tidak hanya berhenti dengan menaikan harga, tetapi mencari upaya agar harga komoditas pertanian stabil.

 

“Harus ada inovasi dan strategi baru guna mencegah inflasi komoditas pertanian. Kita akan mengembangkan alternatif tanaman agar tidak ada over produksi, one village one cluster. Dengan ini stabilitas harga pertanian dapat dijaga,” ungkapnya.

 

Mustafa menambahkan, melimpahnya produksi singkong di Lampung Tengah membuat harga komoditas ini anjlok. Guna mengantisipasi hal ini, petani harus mulai diarahkan untuk menanam komoditas lain, seperti tebu, cabai atau bawang merah. “Akan kami bentuk klaster-klaster komoditas pertanian sehingga produksi terjaga dan harga bisa distabilkan,” imbuhnya.

 

Selain menggandeng perbankan, petani-petani juga telah diberi pelatihan terkait penanaman bawang merah. Pelatihan menjadi bekal petani selain pendampingan. Dengan potensi pertanian hingga 70 persen, Mustafa optimis jika petani sejahtera maka Lampung Tengah akan maju.

 

“Kita akan membuat gerakan petani untuk Lampung Tengah sejahtera. Targetnya adalah melahirkan petani-petani handal yang nantinya jadi pemasok-pemasok pangan di Lampung dan nasional,” pungkasnya.

 

Sementara itu Direktur BI Cabang Lampung Arif Hartawan menuturkan pembangunan pertanian merupakan 1 dari sembilan prioritas pembangunan yang dicanangkan presiden. Untuk itu perlu ada upaya mengembangkan sektor pertanian yang kompetitif, SDM yang berkualitas dan ditunjang IT.

 

Baru-baru ini, lanjut Arif, pertanian Indonesia diguncang dengan anjloknya harga singkong yang menyebabkan kerugian petani, khususnya Lampung Tengah sebagai penghasil singkong terbesar.

“Inflasi harga pertanian akan mempengaruhi stabilitas ekonomi mengingat sebagian besar masyarakat kita adalah petani. Untuk itu harga pangan harus stabil. Petani butuh kepastian harga. Disini Bank Indonesia bersama Pemkab Lamteng mengupayakannya dengan mengembangkan alternatif penanaman,” ungkap Arif.

 

Pihaknya juga mengapresiasi langkah bupati yang telah mengupayakan kenaikan harga singkong dari Rp 550 menjadi Rp 700 per kg. Langkah meningkatkan kesejahteraan petani harus terus dilakukan.

“Bersama Pemkab Lampung Tengah, kami akan mendorong pengengembangan sektor perekonomian di kabupaten berjuluk Jejamo Wawai ini,” tukasnya. (angga/red)