HMI Pandeglang Gelar Seminar, Lima Masalah Kebangsaan Terkuak

Amas Tadjuddin saat memaparkan materinya dalam seminar bertajuk merawat Indonesia dan Keindonesiaan di Pandeglang (3012017)

PANDEGLANG, BeritaTransparansi.com – Situasi kebangsaan kenegaraan Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang sangat kritis, potensi perpecahan bangsa, ancaman disintegrasi nasional sudah didepan mata, perseturuan antar kelompok keyakinan dan agama sudah tidak dapat ditolerir lagi, kehilangan kedaulatan pemerintahan dan negara bangsa sepertinya sudah berlangsung secara sistematis.

Hal itu dipaparkan pemerhati sosial keagaman DR. H Amas Tadjuddin dalam seminar yang bertajuk “Merawat Indonesia dan Keindonesiaan” yang digelar Korps Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Gedung MUI Pandeglang, Selasa (30/1).

“Oleh karena itu seluruh komponen Bangsa tanpa kecuali harus tampil bersama sama merawat Indonesia dan Keindonesiaan agar selamat tentram aman damai bersama berdasarkan Indonesia Pancasila, UUD 1945, senantiasa mempertahankan NKRI dan Kebhinekaan,” ungkap Amas yang juga menjabat Sekretaris Umum MUI Kota Serang ini.

Baca Juga:  FKPT BANTEN: BOM TERORIS MAKASAR BERAGAMA PALSU DAN SESAT
Peserta seminar merawat Indonesia dan Keindonesiaan

Amas Tadjuddin kemudian merinci setidaknya ada lima point dalam memaparkan permasalahan dan solusi kebangsaan tersebut antara lain :

(1) Isu berkembangnya faham dan gerakan kebangkitan komunis tidak bisa dipungkiri lagi, munculnya atribut PKI dengan berbagai bentuknya menyebar di seluruh wilayah Indonesia, oleh karena itu Korps HMI harus menjadi garda terdepan membendung faham dan gerakan PKI yang telah terbukti sebagai penghianat bangsa

(2) Masuknya kekuatan asing dalam berbagai kepentingan politik, ekonomi, budaya dan sumber daya manusia dan energi, merupakan ancaman nyata bagi kehidupan bangsa Keindonesia, kehilangan martabat dan kedaulatan indonesia sebagai negara besar, hal ini merupakan keprihatinan tersendiri, dan kita harus menyadari ini sehingga mampu menahan laju kekuatan asing dimaksud.

Baca Juga:  Bapenda Tuba Diduga Belum Maksimalkan Pajak Dari Sektor Ini

(3) Konflik SARA dimulai dari konflik antar etnis dan umat beragama menjadi isu viral yang sengaja didesain untuk meruntuhkan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

(5) Munculnya kelompok tertentu berbasis agama yang hendak mengganti idiologi Pancasila menjadi idiologi berdasarkan keyakinan keagamaan sehingga munculah gerakan dan faham radikal terorisme berteriak Allahu Albar tetapi gerakanya menyalahi ajaran agama. Lihatlah contoh konflik timur tengah antar umat islam saling membunuh, akankah hal ini akan terjadi di Indonesia? Jawabanya ada pada kita. Mari kita rawat Indonesia dan Keindonesiaan kita, Indonesia milik kita. Jangan gadaikan Indonesia kepada asing

Seminar yang  dihadiri sebanyak 200 peserta  dari kalangan mahasiswa pemuda dan tokoh masyarakat itu, menghadirkan narasumber DR H Amas Tadjuddin, juga DR H Ali Nurdin (Warek Unma Banten), Dra Hj Eka Julaeha, MA (Akademisi IAIN SMHB Serang).

Baca Juga:  Putusan MK Jadi Alasan Bapenda Tuba Tidak Tarik PPJ

 

Sumber