Gubernur Lampung: Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung Tertinggi se-Sumatera

beritatransparansi.com, Bandar Lampung – Pidato Gubernur Lampung yang menyatakan bahwa pertumbuhan Provinsi Lampung tertinggi se-Sumatera bukanlah suatu kebohongan. Pasalnya, pidato yang disampaikan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, saat pelantikan PWI Lampung tanggal (8/11/2016) lalu, menggunakan data pertumbuhan ekonomi BPS Lampung Triwulan II tahun 2016. (data terbaru yang digunakan sebelum release data Triwulan III pada (7/11/2016) oleh BPS.
Sekretaris Bappeda Provinsi Lampung Elvira Umihanni SP, MT, menjelaskan, data pertumbuhan ekonomi triwulanan Provinsi Lampung, pada triwulan II Tahun 2016 sebesar 4.33 persen (q to q), ini merupakan pertumbuhan tertinggi di wilayah Sumatera. Demikian pula pertumbuhan ekonomi triwulanan pada triwulan I tahun 2016 sebesar 6.51 persen (q to q), yang  juga merupakan pertumbuhan tertinggi se-Sumatera.

 

“Dengan demikian, maksud pernyataan Gubernur dalam acara tersebut, bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tertinggi se-Sumatera berdasarkan data pertumbuhan ekonomi Triwulan I dan Triwulan II Tahun 2016 (q to q).  Bila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, pertumbuhan ekonomi Lampung (y to y) selalu di atas Nasional selama dua tahun terakhir atau sejak tahun 2015,” papar Elvira, Kamis (10/11/2016).

 

Pesatnya pertumbuhan ekonomi Lampung triwulan I dan II tahun 2016 tersebut juga diberitakan pada saat release data oleh BPS dan pada Kajian Ekonomi & Keuangan Regional oleh Bank Indonesia.

 

Dirinya melanjutkan, target capaian pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tahun 2016 sebesar 6.35 – 6.5 persen, maksudnya adalah, bahwa target capaian tersebut merupakan target pertumbuhan ekonomi tahun 2016 pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Lampung Tahun 2015-2019 yang disusun pada tahun 2014. Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global, nasional, dan lokal pada saat itu.

Pemerintah Provinsi Lampung, sambungnya, telah melakukan penyesuaian target pertumbuhan ekonomi tahun 2016, sebagaimana tercantum pada dokumen Kebijakan Umum APBD tahun 2016 yang telah disepakati bersama antara DPRD dan Pemerintah Provinsi Lampung yaitu sebesar 5.3 – 5.6 persen.

 

“Dalam perkembangannya, target tersebut disesuaikan kembali sebagaimana tertera dalam dokumen Kebijakan Umum Perubahan APBD Tahun 2016 menjadi sebesar 5.2 – 5.5 persen,” tukasnya.

 

Penyesuaian target tersebut, kata dia, merupakan sebuah kewajaran, mengingat bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Lampung, tapi juga Pemerintah Pusat dalam penyusunan target pertumbuhan ekonomi nasional yang tercantum dalam APBN.

 

Terkait kontribusi pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan III tahun 2016 sebesar 1.79 persen dan merupakan kontribusi tertinggi bila dibandingkan sektor lainnya. “Dapat dijelaskan bahwa hal tersebut dapat dicapai karena adanya peningkatan produksi pada beberapa komoditi sektor pertanian seperti produksi padi meningkat 6.74 persen,” urainya.

 

Masih katanya, peningkatan produksi padi di Provinsi Lampung menjadi bagian dari target kebijakan peningkatan produksi nasional dengan target sebesar 1 juta ton GKG hingga Tahun 2016 untuk Provinsi Lampung.  Harga komoditi pertanian tidak berpengaruh dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi, karena menggunakan produk domestik regional bruto berdasarkan harga konstan.

 

“Sebagai sektor yang memiliki kontribusi terbesar dalam perekonomian Provinsi Lampung yaitu sebesar 33.30% dan menjadi mata pencarian sebagian besar masyarakat, maka sektor pertanian perlu terus diperhatikan sambil berupaya  mengembangkan sektor-sektor ekonomi lain yang dapat semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan,” pungkasnya (tom/angga/red).