Plastik Tak Terurus: Wajah Lain Kota Modern
Kawasan perkotaan modern seringkali diwarnai paradoks: di satu sisi gemerlap kemajuan, di sisi lain menghadapi "gaya pengurusan kotor plastik" yang memprihatinkan. Istilah ini merujuk pada pendekatan pengelolaan sampah plastik yang serampangan, minim infrastruktur, dan berujung pada pencemaran lingkungan yang serius.
Gaya pengelolaan ini dicirikan oleh minimnya sistem terpadu yang formal. Sampah plastik sering bercampur dengan jenis sampah lain sejak dari sumber, menyulitkan proses daur ulang. Pengumpulan seringkali bergantung pada sektor informal (pemulung) tanpa dukungan infrastruktur memadai, atau bahkan berakhir di tempat pembuangan terbuka yang tidak terkelola. Pembakaran sampah terbuka yang kerap terjadi menambah masalah polusi udara, sementara tumpukan plastik menyumbat saluran air, memicu banjir, dan mencemari ekosistem perkotaan.
Konsekuensi dari gaya pengelolaan ini sangat serius. Lingkungan tercemar, mulai dari tanah, air, hingga udara, mengancam keanekaragaman hayati dan keindahan kota. Lebih krusial lagi, kesehatan masyarakat menjadi taruhan; peningkatan risiko penyakit pernapasan, pencernaan, hingga potensi dampak jangka panjang lainnya. Selain itu, potensi ekonomi dari daur ulang pun terbuang percuma, mengubah sampah berharga menjadi beban.
Mengatasi "gaya pengurusan kotor plastik" ini bukan hanya tentang kebersihan visual, tetapi juga tentang keberlanjutan kota dan kualitas hidup warganya. Diperlukan pendekatan holistik: edukasi masyarakat, peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah yang terintegrasi (mulai dari pemilahan di sumber hingga fasilitas daur ulang modern), penguatan regulasi, dan inovasi teknologi. Hanya dengan komitmen bersama, kota-kota kita bisa lepas dari jeratan plastik tak terurus dan mewujudkan lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
