Dampak Hukuman Sosial terhadap Pelaku Kriminal di Media Sosial

Jerat Hukuman Jempol: Ketika Pelaku Kriminal ‘Diadili’ di Media Sosial

Media sosial, yang semula wadah konektivitas, kini menjelma menjadi arena ‘peradilan’ publik bagi pelaku kriminal. Ketika kejahatan terungkap, kemarahan publik seringkali meluap di dunia maya. Identitas pelaku disebar, aibnya diumbar, dan gelombang kecaman tak terbendung. Ini seringkali dipicu oleh rasa frustrasi terhadap proses hukum formal yang dianggap lambat atau tidak memadai. Dampak instan terasa: reputasi hancur, kehilangan pekerjaan, hingga pengucilan sosial yang meluas.

Namun, di balik kepuasan sesaat publik, hukuman sosial online menyisakan luka mendalam bagi pelaku. Mereka kerap menghadapi tekanan mental hebat, kecemasan, depresi, bahkan keinginan untuk bunuh diri akibat stigma permanen. Kesempatan untuk rehabilitasi dan reintegrasi ke masyarakat menjadi sangat sulit, karena jejak digital tidak pernah benar-benar hilang. Tanpa proses hukum yang adil, mereka ‘divonis’ oleh massa tanpa hak membela diri, seringkali berujung pada pengucilan total dari segala aspek kehidupan. Risiko salah sasaran atau informasi yang belum terverifikasi juga tinggi, menambah kompleksitas masalah.

Meskipun niat di balik hukuman sosial ini seringkali adalah penegakan keadilan versi publik, dampaknya bisa jauh melampaui batas yang wajar dan menghambat upaya rehabilitasi. Penting bagi kita untuk merenungkan batas antara akuntabilitas dan penghakiman massal, serta dampaknya terhadap masa depan individu yang telah atau sedang menjalani proses hukum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *