Bersama Cegah Radikal Terorisme

Narasumber : Amas Tadjuddin (tengah pegang mik), Dr H Bazari Syam, Kombes Pol Widodo Nefisco, Kombes Pol A Hutabarat
Narasumber : Amas Tadjuddin (tengah pegang mik), Dr H Bazari Syam, Kombes Pol Widodo Nefisco, Kombes Pol A Hutabarat

Beritatransparansi.com, Serang – Penandatangan nota kesepahaman bersama upaya pencegahan gerakan radikalisme terorisme di Banten dibuka oleh Brigjen Pol Drs Listyo Sigit Prabowo, M.Si Kapolda Banten selaku penggagas dan penyelenggara kegiatan tersebut serta dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat diantaranya Ketua FKPT Banten, Danrem Maulana Yusuf Banten, Kanwil Kemenag Banten, Danlanal Banten, Kajati Banten, Ketua DPRD Banten, Rektor Untirta, Rektor IAIN SMHB Banten, Rektor Unsera, Ketua KNPI Banten, Dr KH AM Romly, M.Hum (MUI), Dr H Asnawi Sarbini, MPA (Muhamadiyah), KH Ariman Anwar (NU), H Toni Anwar Mahmud (FKUB), Kapolres Kota serang, Kapolres Kabupaten Serang dan para pejabat Polda Banten serta unsur masyarakat lainya bertempat di aula serba guna Mapolda Banten.

 

Setelah selesai sesi penandatanganan dilanjutkan acara sosialisasi pencegahan gerakan radikal terorisme dengan menghadirkan narasumber Amas Tadjuddin (FKPT), Kombes Pol Widodo Nefisco, S.I.K., M.Si (Dirintelkam Polda Banten), Dr H Bazari Syam, M.Pd (Kepala Kanwil Kemenag Banten), dan Kombes Pol Drs Aldrin Hutabarat,  M.Si (Dirreskrimum Polda Banten).

 

Amas Tadjuddin dalam paparanya menyampaikan terimakasih sukses dan apresiasi tinggi kepada Kapolda Banten yang telah memprakarsai MoU pencegahan radikal terorisme dan penertiban serta penegakan hukum terhadap para pelaku.

 

FKPT banten sesuai fungsinya mendukung penuh prakarsa Kapolda Banten untuk terus melakukan pelibatan seluruh komponen masyarakat upaya kegiatan pencegahan. FKPT yang dibentuk oleh BNPT sebagai kepanjangan dan mitra strategis di daerah untuk menjalankan koordinasi pencegahan terorisme

 

“ketidakadilan, diskriminasi kebijakan, kesenjangan sosial, kemiskinan, dan gagal faham terhadap kitab suci merupakan faktor utama penentu mudahnya seseorang terprovokasi mengikuti faham gerakan radikal terorisme” demikian dikatakan Amas Tadjuddin yang juga sebagai Sekretaris Umum MUI Kota Serang, Kamis (22/3)

 

Lebih lanjut, Amas menekankan bahwa munculnya gerakan radikal terorisme dan ditambah bangkitnya komunisme saat ini dipengaruhi oleh situasi politik dan penegakan hukum yang dirasakan belum maksimal, serta pengaruh luar negeri dengan isu HAM dan demokrasi sehingga kebebasan bependapat dan berserikat merupakan pintu masuknya idiologi tertentu yang banyak bertentangan dengan Pancasila.

 

Pada bagian lain Amas menyinggung soal kalau ada sekelompok umat islam yang menuntut dan memperjuangkan penegakan hukum dan keadilan sering kali dicap anti Pancasila dan anti Kebhinnekaan. hal ini menurut Amas adalah preseden buruk yang hanya membuat umat islam tersakiti.

“Sementara dipihak lain ada kelompok tertentu yang telah membuat gaduh dan merusak merukunan umat beragama tidak pernah disangka intoleransi apalagi disebut terorisme,  inilah yang menjadi atensi kita semua,” ujarnya (bt)