AS Tak Akan Pernah Izinkan Iran Kembangkan Senjata Nuklir

BeritaTransparansi.co.id – Pemerintah Amerika Serikat tak akan pernah mengizinkan Iran mengembangkan senjata nuklir. Penegasan ini disampaikan di Gedung Putih setelah Teheran secara sengaja melanggar perjanjian nuklir tahun 2015, setelah pasokan uranium yang diperkaya telah melampaui batas.

“Tekanan maksimum terhadap rezim Iran akan terus berlanjut hingga para pemimpinnya mengubah arah tindakan mereka,” demikian statemen juru bicara Gedung Putih Stephanie Grisham seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (2/7/2019).

“Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya tak akan pernah mengizinkan Iran mengembangkan senjata nuklir,” imbuhnya seraya mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian nuklir 2005, adalah keliru membiarkan Iran memperkaya uranium pada level apapun.

“Kita harus mengembalikan standar nonproliferasi yang telah lama ada mengenai larangan pengayaan untuk Iran,” demikian disampaikan Grisham dalam statemennya.

Baca Juga:  Menpan RB Resmikan Mall Pelayanan Publik Pemkab Tulangbawang

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah menyatakan mundur dari kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran dan menerapkan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran. Hubungan kedua negara pun makin memburuk.

Pada Senin (1/7), Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan produksi uranium yang diperkaya kini melebihi 300 kilogram. Klaim Iran ini telah dikonfirmasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Iran meningkatkan produksi uranium yang diperkaya untuk dijadikan bahan bakar pembangkit yang dapat menjadi senjata nuklir, sebagai balasan diterapkannya kembali sanksi Amerika Serikat. Negara-negara Eropa telah memperingatkan bahwa pelanggaran dalam bentuk apapun akan membawa konsekuensi tertentu.

Diketahui bahwa uranium yang telah diperkaya dihasilkan dengan memasukkan gas uranium hexafluoride pada sentrifugal guna memisahkan isotop yang paling cocok bagi pembelahan nuklir yang dinamakan U-235.

Baca Juga:  KI Kalbar Studi Banding ke KI Banten Bicarakan Soal PSI

Berdasarkan perjanjian nuklir 2005, Iran hanya diperbolehkan menghasilkan uranium yang diperkaya pada tingkat rendah, yaitu 3-4% konsentrasi U-235, dan dapat digunakan untuk memproduksi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Adapun uranium senjata memiliki tingkat pengayaan 90% lebih. (KI)

Sumber : detikNews