Anak Jalanan Kian Banyak: Di Mana Hadirnya Negara?
Pemandangan anak-anak di jalanan, dengan segala kerentanan dan potret suramnya, kini semakin akrab di berbagai sudut kota. Jumlah mereka bukan berkurang, melainkan kian membengkak. Mereka adalah korban dari mata rantai kemiskinan, putus sekolah, disfungsi keluarga, hingga eksploitasi yang tak berkesudahan. Jalanan menjadi rumah, sekolah, sekaligus medan perjuangan hidup yang kejam, jauh dari hak dasar yang seharusnya mereka dapatkan.
Pertanyaannya menggantung: di mana negara, saat wajah-wajah polos ini kehilangan masa depan? Secara konstitusional, negara memiliki kewajiban mutlak untuk melindungi setiap warganya, terutama anak-anak. Ada undang-undang, program, dan anggaran yang seharusnya menjadi jaring pengaman. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa implementasi kebijakan seringkali belum menyentuh akar masalah, atau bahkan terkesan sporadis dan kurang berkelanjutan.
Apakah ini karena kurangnya political will, koordinasi yang lemah antarlembaga, atau prioritas pembangunan yang belum berpihak penuh pada kelompok paling rentan? Keberadaan anak jalanan yang terus bertambah adalah cerminan kegagalan kolektif kita sebagai bangsa.
Maka, sudah saatnya negara hadir bukan hanya dengan retorika, tapi dengan tindakan nyata yang terstruktur, berkelanjutan, dan manusiawi. Dibutuhkan komitmen serius dari pemerintah, sinergi lintas sektor, dan partisipasi aktif masyarakat untuk memastikan setiap anak memiliki hak atas perlindungan, pendidikan, kesehatan, dan masa depan yang layak. Tanpa kehadiran negara yang kuat dan peduli, jumlah anak jalanan akan terus menjadi noda hitam dalam catatan kemanusiaan kita.
