Berita  

Efek urbanisasi kepada kesehatan publik

Kota Membara, Kesehatan Terancam: Membedah Dampak Urbanisasi pada Publik

Urbanisasi, fenomena perpindahan masif penduduk dari pedesaan ke perkotaan, adalah motor penggerak kemajuan ekonomi dan sosial. Namun, di balik gemerlap gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk aktivitas, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan publik yang sering terabaikan.

1. Lingkungan Fisik yang Memburuk:
Kepadatan penduduk di kota seringkali berbanding lurus dengan peningkatan polusi. Udara tercemar dari emisi kendaraan, industri, dan pembakaran sampah menyebabkan penyakit pernapasan kronis seperti asma dan ISPA. Sistem sanitasi yang kewalahan dan pengelolaan limbah yang buruk juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular berbasis air seperti diare, kolera, dan demam berdarah, terutama di permukiman kumuh.

2. Pergeseran Gaya Hidup dan Penyakit Tidak Menular:
Gaya hidup perkotaan cenderung mendorong sedentari (kurang gerak) akibat minimnya ruang hijau dan fasilitas olahraga, serta ketergantungan pada transportasi. Ditambah dengan kemudahan akses makanan cepat saji tinggi gula, garam, dan lemak, urbanisasi memicu epidemi obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi—penyakit tidak menular (PTM) yang kini menjadi beban kesehatan terbesar.

3. Tekanan pada Kesehatan Mental:
Kehidupan kota yang serba cepat, persaingan ketat, kemacetan, dan isolasi sosial di tengah keramaian dapat memicu stres kronis, kecemasan, dan depresi. Tingginya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi juga berkontribusi pada masalah kesehatan mental, sementara akses terhadap layanan psikologis seringkali masih terbatas atau mahal.

4. Beban Infrastruktur Kesehatan:
Lonjakan populasi di perkotaan seringkali tidak diimbangi dengan pertumbuhan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Akibatnya, rumah sakit dan puskesmas kewalahan, antrean panjang, dan kualitas layanan menurun, terutama bagi kelompok rentan dengan akses finansial terbatas.

Kesimpulan:
Urbanisasi adalah keniscayaan, tetapi dampaknya pada kesehatan publik bukan tak terhindarkan. Diperlukan perencanaan kota yang berkelanjutan dengan fokus pada ruang hijau, transportasi publik ramah lingkungan, sistem sanitasi yang efektif, serta promosi gaya hidup sehat dan akses merata terhadap layanan kesehatan fisik dan mental. Hanya dengan pendekatan holistik, kota-kota dapat tumbuh sebagai pusat kesejahteraan, bukan hanya kemajuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *